Tentang Saya
Hello fellas!๐
Perkenalkan saya Dini Merdekawati W, panggil saja Dini. Saya adalah seorang mahasiswi (sebenarnya 'maba' 2016) di Universitas Budi Luhur, disana saya mengambil program studi Sistem Informasi yang termasuk dalam Fakultas Teknologi Informasi. Saya lahir di Tangerang, dan pasti kalian sudah menebak tanggal dan bulan kapan saya lahir kan? Yak! Saya lahir tanggal 17 Agustus 1945 16 Agustus 1998, dan saya tidak se-tua yang kalian imajinasikan. Hobby saya membaca novel, tapi saya sedang mencoba membuat karya saya sendiri di wattpad.com/user/diobersyko, bisa diintip siapa tahu tertarik membaca, dan jangan lupa untuk vote, hehehe. Saya juga suka olahraga, terutama bulu tangkis, karena itu saya mengikuti UKM bulu tangkis di kampus. Pemain favorit saya adalah Greysia Polii dan Liliyana Natsir.
Selama ngampus, kegiatan yang saya ikuti selain 'berburu' sertifikat adalah latihan bulu tangkis di Yan's Badminton Hall deket kampus. Latihan diadakan setiap hari senin pukul 4 sore, hari rabu pukul 4 sore dan sabtu pukul 8 pagi. Tetapi hari rabu latihan hanya untuk senior, dan saya termasuk dalam latihan itu (bukan maksud menyombongkan diri). Saya pernah membaca sebuah kalimat yang berkata seperti "apa yang anda sangat sukai, pasti juga akan sangat melukai anda sendiri" kurang lebih begitu, dan itu saya merasakannya sendiri.
Jadi kejadiannya, hari senin memang jadwalnya latihan. Entah kenapa hari itu saya sangat senang, mungkin faktor 'mantan gebetan' putus sama pacarnya, hahaha๐. Datanglah saya ke Hall setelah berpusing ria dengan matkul logika matematika. Sesampainya disana, saya bersiap-siap untuk segera bergabung dengan yang lain. Diawali dengan warming up, yaitu jogging mengelilingi 5 buah lapangan selama 5 menit lamanya tanpa berhenti. Lalu latihan dimulai dan dipimpin langsung dengan coachnya. Setelah latihan seperti shadows dan berbagai macam cara memukul shuttlecock yang benar, biasanya diadakan sebuah game. Mungkin karena kita kaum wanita, kita disuruh bermain dengan format ganda putri. Entah saya berpasangan sama siapa, tetapi saya mencoba 'nepok' bulu itu dengan teman saya, Yelva.
Waktu menunjukan pukul 6 sore, adzan sedang berkumandang. Ada pun yang melaksanakan ibadah shalat maghrib, ada beberapa yang tidak karena sedang halangan. Saya dan teman saya tetap melanjutkan game ganda putri itu karena sedang halangan, dan game ganda itu baru saja dimulai. Entah pada point keberapa, lawan saya me-lob shuttlecock ke daerah lapangan saya. Saya berniat ingin melakukan pukulan jumping smash, namun kenyataannya setelah saya memukul balik bola itu, saya mendarat dengan kaki yang salah. Akibatnya kaki kiri bagian luar saya tertekuk kedalam, sampai bunyi tulang retak. Yang saya bisa lakukan kala itu hanya duduk ditengah lapangan yang sedang bertanding, tidak bisa berpindah karena pikiran saya melayang membayangkan "kaki gue pasti patah". Saya tetap duduk ditengah lapangan sambil menghayati nyerinya engkel saya sampai latihan selesai. Saya mencoba berdiri dengan kaki yang tidak nyeri, mencoba jalan dan sedikit pincang.
Sesampainya di rumah, saya langsung urut. Sakitnya sangat luar biasa, ingin rasanya berteriak saat bagian yang nyeri itu 'dipencet'. Dan saya berpikir "ah besok pasti sudah gapapa", tapi kenyataannya keesokan harinya kaki saya kaku, tidak bisa jalan. Hampir setiap saat saya mengoleskan krim otot/pereda nyeri merek apa saja kebagian yang sakit. Saya mencoba membebatnya beberapa kali, tetapi yang ada malah kaki saya makin bengkak dan makin tidak bisa jalan. Saya pun melewati latihan rutin itu, selama 3-4 minggu saya mengistirahatkan kaki saya.
Minggu ke 5, saya mencoba mulai latihan kembali, sebelum latihan saya mengoleskan krim pereda nyeri itu. Setelah latihan selesai, saya rasa engkel saya agak 'baikan' sedikit demi sedikit. Dari sana saya mulai latihan rutin kembali, dan sampai sekarang saya masih merasakan sedikit ngilu dibagian engkel dan untuk jaga-jaga saya selalu membawa krim otot/pereda nyeri.
Itulah pengalaman saya... Membosankan? memang, tapi masa bodo demi tugas apa pun saya lakukan๐
Sekian
Selama ngampus, kegiatan yang saya ikuti selain 'berburu' sertifikat adalah latihan bulu tangkis di Yan's Badminton Hall deket kampus. Latihan diadakan setiap hari senin pukul 4 sore, hari rabu pukul 4 sore dan sabtu pukul 8 pagi. Tetapi hari rabu latihan hanya untuk senior, dan saya termasuk dalam latihan itu (bukan maksud menyombongkan diri). Saya pernah membaca sebuah kalimat yang berkata seperti "apa yang anda sangat sukai, pasti juga akan sangat melukai anda sendiri" kurang lebih begitu, dan itu saya merasakannya sendiri.
Jadi kejadiannya, hari senin memang jadwalnya latihan. Entah kenapa hari itu saya sangat senang, mungkin faktor 'mantan gebetan' putus sama pacarnya, hahaha๐. Datanglah saya ke Hall setelah berpusing ria dengan matkul logika matematika. Sesampainya disana, saya bersiap-siap untuk segera bergabung dengan yang lain. Diawali dengan warming up, yaitu jogging mengelilingi 5 buah lapangan selama 5 menit lamanya tanpa berhenti. Lalu latihan dimulai dan dipimpin langsung dengan coachnya. Setelah latihan seperti shadows dan berbagai macam cara memukul shuttlecock yang benar, biasanya diadakan sebuah game. Mungkin karena kita kaum wanita, kita disuruh bermain dengan format ganda putri. Entah saya berpasangan sama siapa, tetapi saya mencoba 'nepok' bulu itu dengan teman saya, Yelva.
Waktu menunjukan pukul 6 sore, adzan sedang berkumandang. Ada pun yang melaksanakan ibadah shalat maghrib, ada beberapa yang tidak karena sedang halangan. Saya dan teman saya tetap melanjutkan game ganda putri itu karena sedang halangan, dan game ganda itu baru saja dimulai. Entah pada point keberapa, lawan saya me-lob shuttlecock ke daerah lapangan saya. Saya berniat ingin melakukan pukulan jumping smash, namun kenyataannya setelah saya memukul balik bola itu, saya mendarat dengan kaki yang salah. Akibatnya kaki kiri bagian luar saya tertekuk kedalam, sampai bunyi tulang retak. Yang saya bisa lakukan kala itu hanya duduk ditengah lapangan yang sedang bertanding, tidak bisa berpindah karena pikiran saya melayang membayangkan "kaki gue pasti patah". Saya tetap duduk ditengah lapangan sambil menghayati nyerinya engkel saya sampai latihan selesai. Saya mencoba berdiri dengan kaki yang tidak nyeri, mencoba jalan dan sedikit pincang.
Sesampainya di rumah, saya langsung urut. Sakitnya sangat luar biasa, ingin rasanya berteriak saat bagian yang nyeri itu 'dipencet'. Dan saya berpikir "ah besok pasti sudah gapapa", tapi kenyataannya keesokan harinya kaki saya kaku, tidak bisa jalan. Hampir setiap saat saya mengoleskan krim otot/pereda nyeri merek apa saja kebagian yang sakit. Saya mencoba membebatnya beberapa kali, tetapi yang ada malah kaki saya makin bengkak dan makin tidak bisa jalan. Saya pun melewati latihan rutin itu, selama 3-4 minggu saya mengistirahatkan kaki saya.
Minggu ke 5, saya mencoba mulai latihan kembali, sebelum latihan saya mengoleskan krim pereda nyeri itu. Setelah latihan selesai, saya rasa engkel saya agak 'baikan' sedikit demi sedikit. Dari sana saya mulai latihan rutin kembali, dan sampai sekarang saya masih merasakan sedikit ngilu dibagian engkel dan untuk jaga-jaga saya selalu membawa krim otot/pereda nyeri.
Itulah pengalaman saya... Membosankan? memang, tapi masa bodo demi tugas apa pun saya lakukan๐
Sekian
Komentar
Posting Komentar